💬 BARU! Kini Aphonixplaza aktif di Twitter: @aphonixplaza 💬 INFO: Kini Aphonixplaza.com menambah kategori baru: JASA. 💬 INFO: Kini kategori *Media* berubah nama menjadi *Gratis*. 💬 BARU! Kini Aphonixplaza aktif di Telegram Channel: @aphonixplazachannel 💬 BARU! Kini telah ditambahkan fitur Diskusi Produk via Disqus. Mari berdiskusi dengan sehat & bijak guna kepentingan bersama :) 💬 INFO: Tampilan baru Aphonixplaza sekaligus mengumumkan lansir VERSI 2 💬 BARU! Kini Aphonixplaza hadir di Instagram!

📞 Perlu Bantuan? Hubungi saja: 08777 1330 879 (WA/Telegram) / email@aphonixplaza.com atau klik Hubungi Kami 📞

Api Tauhid: Cahaya Keagungan Cinta sang Mujaddid - Novel Sejarah Pembangun Jiwa

Penulis: Habiburrahman El Shirazy - Penerbit: Republika Penerbit

Api Tauhid: Cahaya Keagungan Cinta sang Mujaddid - Novel Sejarah Pembangun Jiwa
Merk: Republika
Kode Produk: RPBL AT
Ketersediaan: Tersedia
Harga: Rp79.000 Rp71.100 (10% OFF)
Dimensi: 13,50cm X 20,50cm (pxl)
Berat/Weight: 500g
Jml:     - ATAU -   Tambah ke Favorit
Bandingkan
0 (0/5)  0 ulasan  |  Tulis ulasan
BEST SELLER
Meraih Penghargaan dari The Istanbul Foundation for Science & Culture
 
“Ini bukan novel biasa. Ini adalah novel peradaban. Subhanallah, novel sejarah ini menggetarkan jiwa saya,”
--- Meyda Sefira, Artis film dan sinetron
 
SINOPSIS

Ini adalah novel roman dan sejarah. Novel roman yang bercerita seputar perjuangan anak muda asal Lumajang, Jawa Timur, yang bernama Fahmi. Ia dan beberapa rekannya seperti Ali, Hamza, dan Subki, menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah.

Dalam perjalanannya, Fahmi harus menghadapi situasi yang cukup pelik, dalam urusan rumah tangga. Fahmi pun galau. Semua persoalan yang dialaminya itu, tak pernah ia ungkapkan dengan teman-temannya.

Kegalauannya itu ia tumpahkan dengan cara beri’tikaf di Masjid Nabawi, Madinah, selama 40 hari untuk mengkhatamkan hafalan Al-Qur`an sebanyak 40 kali. Sayangnya, upayanya itu hanya mampu dijalani selama 12 hari. Memasuki hari-hari berikutnya, Fahmi pingsan. Ia tak sadarkan diri, hingga harus dibawa ke rumah sakit.

Sahabat-sahabatnya khawatir dengan kondisinya yang pemurung dan tidak seceria dulu. Hamza, temannya yang berasal dari Turki, mengajak Fahmi untuk berlibur ke Turki. Hamza berharap, Fahmi bisa melupakan masa-masa galaunya selama di Turki nanti.

Untuk itulah, Hamza mengajak Fahmi menelusuri jejak perjuangan Said Nursi, seorang ulama besar asal Desa Nurs. Ulama terkemuka ini, dikenal memiliki reputasi yang mengagumkan.

Syaikh Said Nursi, sudah mampu menghafal 80 kitab karya ulama klasik pada saat usianya baru menginjak 15 tahun. Tak hanya itu, Said Nursi hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menghafal Al-Qur`an. Sungguh mengagumkan. Karena kemampuannya itu, sang guru, Muhammed Emin Efendi memberinya julukan ‘Badiuzzaman’ (Keajaiban Zaman).

Keistimewaan Said Nursi, membuat iri teman-teman dan saudaranya. Ia pun dimusuhi. Namun, Said Nursi pantang menyerah. Semua diladeni dengan berani dan lapang dada. Tak cuma itu, rekan-rekan dan saudara-saudaranya yang iri dan cemburu akan kemampuannya, para ulama besar pun merasa terancam. Keberadaan Said Nursi membuat umat berpaling. Mereka mengidolakan Said Nursi.

Pemerintah Turki pun merasa khawatir. Sebab, Said Nursi selalu mampu menghadapi tantangan dari orang-orang yang memusuhinya. Ia selalu mengalahkan mereka dalam berdebat.

Tak kurang akal, pejabat pemerintah pun diam-diam berusaha menyingkirkannya. Baik dengan cara mengusirnya ke daerah terpencil, maupun memenjarakannya. Ia pun harus berhadapan dengan Sultan Hamid II hingga Mustafa Kemal Attaturk, pada masa awal Perang Dunia I.

Selama 25 tahun berada di penjara, Said Nursi bukannya bersedih, ia malah bangga. Karena disitulah, ia menemukan cahaya abadi ilahi. Ia menemukan Api Tauhid. Dan melalui pengajian-pengajian yang diajarkannya, baik di masjid maupun di penjara, murid-muridnya selalu menyebarluaskannya kepada khalayak. Baik dengan cara menulis ulang pesan-pesan Said Nursi, maupun memperbanyak risalah dakwahnya. Murid-muridnya berhasil merangkum pesan dakwah Said Nursi itu dengan judul Risalah Nur. Murid-muridnya tidak ingin, Api Tauhid yang dikobarkan Said Nursi berakhir.


Bagaimana dengan Fahmi? Perjalanan ke Turki membawa Fahmi berkenalan dengan gadis setempat, Emel, adik Hamza, dan Aysel, saudara sepupu Hamza. Kemampuan Fahmi dalam menyikapi segala sesuatu, membuat Aysel jatuh hati. Aysel menyatakan cintanya pada Fahmi.

Bagaimana dengan Emel? Lalu bagaimana kisah cinta Fahmi dengan Nuzula? Semuanya ada dalam buku Api Tauhid, karya Habiburrahman El-Shirazy, novelis nomor satu di Indonesia ini.

Ini bukan hanya novel sejarah yang menyadarkan, tapi juga novel cinta yang menggetarkan.
Penulis novel Ayat Ayat Cinta yang legendaris itu meramu kisah cinta berbalut kesucian yang
menciptakan keajaiban. Ya, cinta yang suci selalu melahirkan keajaiban dan keteladanan. Novel ini
menyuguhkan hal itu.

Data
Terbit Jakarta, 2014
Penulis Habiburrahman El Shirazy
Penerbit Republika Penerbit
ISBN 978-602-8997-95-9
Tebal 573 Halaman
Sampul Softcover

Tulis ulasan

Nama Kamu:


Ulasanmu: Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Buruk           Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Info

BEST SELLER
Meraih Penghargaan dari The Istanbul Foundation for Science & Culture
 
“Ini bukan novel biasa. Ini adalah novel peradaban. Subhanallah, novel sejarah ini menggetarkan jiwa saya,”
--- Meyda Sefira, Artis film dan sinetron
 
SINOPSIS

Ini adalah novel roman dan sejarah. Novel roman yang bercerita seputar perjuangan anak muda asal Lumajang, Jawa Timur, yang bernama Fahmi. Ia dan beberapa rekannya seperti Ali, Hamza, dan Subki, menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah.

Dalam perjalanannya, Fahmi harus menghadapi situasi yang cukup pelik, dalam urusan rumah tangga. Fahmi pun galau. Semua persoalan yang dialaminya itu, tak pernah ia ungkapkan dengan teman-temannya.

Kegalauannya itu ia tumpahkan dengan cara beri’tikaf di Masjid Nabawi, Madinah, selama 40 hari untuk mengkhatamkan hafalan Al-Qur`an sebanyak 40 kali. Sayangnya, upayanya itu hanya mampu dijalani selama 12 hari. Memasuki hari-hari berikutnya, Fahmi pingsan. Ia tak sadarkan diri, hingga harus dibawa ke rumah sakit.

Sahabat-sahabatnya khawatir dengan kondisinya yang pemurung dan tidak seceria dulu. Hamza, temannya yang berasal dari Turki, mengajak Fahmi untuk berlibur ke Turki. Hamza berharap, Fahmi bisa melupakan masa-masa galaunya selama di Turki nanti.

Untuk itulah, Hamza mengajak Fahmi menelusuri jejak perjuangan Said Nursi, seorang ulama besar asal Desa Nurs. Ulama terkemuka ini, dikenal memiliki reputasi yang mengagumkan.

Syaikh Said Nursi, sudah mampu menghafal 80 kitab karya ulama klasik pada saat usianya baru menginjak 15 tahun. Tak hanya itu, Said Nursi hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menghafal Al-Qur`an. Sungguh mengagumkan. Karena kemampuannya itu, sang guru, Muhammed Emin Efendi memberinya julukan ‘Badiuzzaman’ (Keajaiban Zaman).

Keistimewaan Said Nursi, membuat iri teman-teman dan saudaranya. Ia pun dimusuhi. Namun, Said Nursi pantang menyerah. Semua diladeni dengan berani dan lapang dada. Tak cuma itu, rekan-rekan dan saudara-saudaranya yang iri dan cemburu akan kemampuannya, para ulama besar pun merasa terancam. Keberadaan Said Nursi membuat umat berpaling. Mereka mengidolakan Said Nursi.

Pemerintah Turki pun merasa khawatir. Sebab, Said Nursi selalu mampu menghadapi tantangan dari orang-orang yang memusuhinya. Ia selalu mengalahkan mereka dalam berdebat.

Tak kurang akal, pejabat pemerintah pun diam-diam berusaha menyingkirkannya. Baik dengan cara mengusirnya ke daerah terpencil, maupun memenjarakannya. Ia pun harus berhadapan dengan Sultan Hamid II hingga Mustafa Kemal Attaturk, pada masa awal Perang Dunia I.

Selama 25 tahun berada di penjara, Said Nursi bukannya bersedih, ia malah bangga. Karena disitulah, ia menemukan cahaya abadi ilahi. Ia menemukan Api Tauhid. Dan melalui pengajian-pengajian yang diajarkannya, baik di masjid maupun di penjara, murid-muridnya selalu menyebarluaskannya kepada khalayak. Baik dengan cara menulis ulang pesan-pesan Said Nursi, maupun memperbanyak risalah dakwahnya. Murid-muridnya berhasil merangkum pesan dakwah Said Nursi itu dengan judul Risalah Nur. Murid-muridnya tidak ingin, Api Tauhid yang dikobarkan Said Nursi berakhir.


Bagaimana dengan Fahmi? Perjalanan ke Turki membawa Fahmi berkenalan dengan gadis setempat, Emel, adik Hamza, dan Aysel, saudara sepupu Hamza. Kemampuan Fahmi dalam menyikapi segala sesuatu, membuat Aysel jatuh hati. Aysel menyatakan cintanya pada Fahmi.

Bagaimana dengan Emel? Lalu bagaimana kisah cinta Fahmi dengan Nuzula? Semuanya ada dalam buku Api Tauhid, karya Habiburrahman El-Shirazy, novelis nomor satu di Indonesia ini.

Ini bukan hanya novel sejarah yang menyadarkan, tapi juga novel cinta yang menggetarkan.
Penulis novel Ayat Ayat Cinta yang legendaris itu meramu kisah cinta berbalut kesucian yang
menciptakan keajaiban. Ya, cinta yang suci selalu melahirkan keajaiban dan keteladanan. Novel ini
menyuguhkan hal itu.

Data

Data
Terbit Jakarta, 2014
Penulis Habiburrahman El Shirazy
Penerbit Republika Penerbit
ISBN 978-602-8997-95-9
Tebal 573 Halaman
Sampul Softcover

Ulasan (0)

Tulis ulasan

Nama Kamu:


Ulasanmu: Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Buruk           Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:





Random Testimoni
Wangsit SBMPTN Platinum TPA (Tes Potensi Akademik)
4
"Feedback untuk transaksi 170405360486 untuk pembelian 1 buah Buku Wangsit SBMPTN 2017 TPA PLATINUM."
Wangsit SBMPTN Platinum Bahasa Inggris
4
"terimakasih..bukunya bagus untuk latihan soal."
Wangsit SBMPTN Platinum Matematika IPA & Dasar
4
"bukunya bagus, sampainya juga cepat"
📞 Perlu Bantuan? Hubungi saja: 08777 1330 879 (WA/Telegram) / email@aphonixplaza.com atau klik Hubungi Kami 📞


Tokopedia    Bukalapak    OLX    Jualo    Google MyBusiness    Kaskus

PengawasOnline.com    PolisiInternet.com    VerifikasiOnline.com    Jualo.com
Hak Cipta oleh Aphonixplaza™-Aphonixplaza.com © 2018
RS: CsillámVilág | Tema: Yoocart